in

Patih Udara dalam Catatan Tome Pires Tahun 1513

Di unggah dari: Facebook.com

Penulis: Purwanto Heri

 Tome Pires adalah dokter/apoteker Kerajaan Portugal yang dikirim ke Malaka untuk menjadi akuntan, auditor, dan juru tulis koloni Portugis di sana. Kelak ia dikenal pula sebagai duta besar pertama bangsa Eropa untuk Tiongkok. Pada tahun 1513 ia mengunjungi Pulau Jawa untuk keperluan belanja rempah-rempah dan mencatat apa yang ia alami. Catatan kunjungan Tome Pires itu terkenal dengan judul Suma Oriental.

Ringkasan catatan mengenai Patih Udara adalah sebagai berikut:

 “… Raja Jawa dikenal dengan nama Batara Vojyaya. Para bangsawan Jawa bertubuh tinggi dan rupawan. Mereka menggunakan berbagai macam senjata yang berlapis emas. Mereka juga pemburu dan pengendara kuda yang lihai, tentunya dengan pijakan kaki dan pelana yang berlapis emas pula. Hal ini tidak dapat dijumpai di tempat lain di seluruh dunia. 

 Negeri Jawa bagian pedalaman berpenduduk padat dan memiliki banyak kota besar. Salah satunya adalah Kota Dayo, di mana Raja tinggal di sana. Raja jarang menampakkan diri di depan umum, melainkan hanya satu-dua kali setahun. Di dalam istana, Raja dan para bangsawan hidup dalam kesenangan, pesta, dikelilingi para istri dan selir. Konon, Raja mempekerjakan 1.000 orang kasim untuk menjaga mereka, di mana para kasim ini juga berpakaian wanita.

 Rakyat Jawa sudah tidak lagi percaya kepada perintah Raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka. Orang yang berkuasa di Jawa saat ini adalah Guste Pate yang terkenal dan dihormati seperti raja. Ia memerintah segala aspek. Ia menggenggam Raja di tangannya, bahkan ia yang berhak memberikan perintah agar Raja diberi makan. Sang Raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun, juga tidak lagi dianggap penting.

 Wakil Raja Jawa dan juga kapten tertinggi disebut Guste Pate, yang sebelum itu dikenal dengan nama Pate Amdura. Dia menguasai seluruh Jawa di wilayah kaum pagan. Guste Pate adalah mertua Raja Jawa. Ia seorang kesatria yang selalu maju perang. Ia berperang melawan kaum Moor di pesisir pantai, terutama dengan penguasa Demaa. Pada saat maju perang, ia selalu membawa 200.000 prajurit, yang mana 2.000 di antaranya adalah pasukan berkuda, dan 4.000 pasukan bersenapan….”

 Keterangan : * BATARA VOJYAYA = Bhatara Wijaya = Bhra Wijaya = Prabu Brawijaya jika menurut naskah tradisional. * DAYO = Daha  Dengan kata lain, pada saat itu ibu kota Majapahit sudah berpindah ke Kediri, tidak lagi berada di Trowulan. * GUSTE PATE AMDURA = Gusti Patih Mahodara * DEMAA = Demak  penguasa Demak dalam naskah itu bernama Pate Rodim, musuh besar Guste Pate. * MOOR = sebutan bangsa Eropa terhadap umat Muslim kala itu.

 PATIH UDARA DALAM CATATAN DUARTE BARBOSA 1518

 Duarte Barbosa adalah penulis dari Portugis yang ikut gugur bersama Fernao de Magalhaens di Filipina tahun 1521. Ia sempat mencatat tentang Patih Udara pada tahun 1518, dalam bukunya yang berjudul O Livro.

 “… di antara pulau-pulau itu ada satu yang sangat besar disebut Jawa, yang didiami oleh kaum Pagan di pedalaman, dan kaum Moor di pesisir pantai. Terdapat kota besar dan juga desa-desa yang mana dikuasai oleh Raja Kaum Pagan, seorang penguasa besar yang dikenal dengan nama Pateudra, yang tinggal di pedalaman….”

 Keterangan : * PATEUDRA = Patih Udara.

 ADIPATI UDARA DALAM BABAD TANAH JAWI

 Dalam naskah tradisional Babad Tanah Jawi yang disusun pada zaman Kasunanan Kartasura di abad 18, juga disebut adanya nama Adipati Hudara. Namun bedanya, menurut catatan Portugis tokoh tersebut muncul di masa Majapahit akhir, sedangkan dalam naskah tradisional ini ia muncul di era Majapahit awal.

 “… Raja Majapahit memiliki putra bernama Prabu Anom, sedangkan Patih Wahan juga memiliki putra bernama Hudara, yang dijadikan sebagai Adipati di Kadiri. Setelah Prabu Sesuruh meninggal, ia digantikan putranya sebagai raja, sedangkan yang menjadi patih tetap Kyai Wahan. Pada suatu hari raja yang baru itu hendak berburu di hutan, namun dihalangi Patih Wahan, dengan alasan ia baru saja dilantik, para abdi belum seluruhnya tunduk. Raja salah paham menuduh Patih Wahan menghalangi keinginannya.

 Raja memiliki abdi kepercayaan bernama Ujung Sabata yang bebas keluar masuk istana. Mendengar Raja sedang marah, Ujung Sabata masuk ke kamar dan ikut memanas-manasi, sehingga Raja semakin marah. Hingga akhirnya, Raja pun memerintahkan Ujung Sabata membunuh Patih Wahan. Ujung Sabata lalu berangkat dengan membawa keris milik Raja yang bernama Kyai Jangkungpacar. Patih Wahan pun dibunuh di rumahnya.

 Putra Patih Wahan yang menjadi Adipati Kadiri mendengar hal itu dan berniat membalas dendam. Saat itu Raja pergi berburu ke hutan untuk bersenang-senang hingga terpisah dari para pengawalnya. Adipati Kadiri menyusul dengan mengendarai kuda dan membawa tombak. Begitu bertemu, Raja pun ditusuk tombak hingga tewas….”

 Demikianlah berita tentang Adipati Hudara dalam Babad Tanah Jawi. Jika menurut catatan Tome Pires, Patih Udara adalah perdana menteri pada zaman Prabu Bhra Wijaya, maka dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa perdana menteri yang mendampingi Prabu Brawijaya bernama Patih Gajah Mada. Hal ini tentu saja berbeda dengan data sejarah, di mana Patih Gajah Mada hidup pada masa kejayaan Majapahit, bukan di zaman akhir.

 PATIH WAHAN DAN PATIH THAHAN

 Yang menarik dalam Babad Tanah Jawi adalah penyebutan ayah Adipati Hudara yang bernama Patih Wahan. Nama ini mirip dengan tokoh perdana menteri era Majapahit akhir yang tercatat dalam Prasasti Petak tahun 1486, bernama Mpu Thahan.

 Terjemahan prasasti tersebut kira-kira demikian :

 “… ketika itu Sri Bhatara Prabhu Girindrawardhana yang memiliki nama asli Dyah Ranawijaya, yang mahir dalam ajaran agama Buddha, diiringi Rakryan Apatih Pu Thahan, meneguhkan anugerah yang telah dikeluarkan Batara Prabhu Sang Mokta ring Mahawisesalaya dan Sang Mokteng Mahalayabhuwana, di mana mereka berdua telah memberikan ganjaran tanah pradesa di Petak berikut lembah dan bukitnya kepada Sri Brahmaraja Ganggadhara….”

 Nama PATIH WAHAN dalam Babad Tanah Jawi dan PATIH THAHAN dalam Prasasti Petak cenderung mirip, dan jika dilihat bentuk aksaranya antara huruf Wa dan Tha ternyata nyaris sama pula. Apakah ini suatu kebetulan, ataukah memang nama Wahan adalah distorsi dari nama Thahan yang diingat secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa? Jika memang demikian, apakah benar Patih Udara adalah putra dari Patih Thahan? Apakah adegan Adipati Hudara membunuh Prabu Anom merupakan simbolis dari perbuatan Pate Amdura merebut kekuasaan Batara Vojyaya secara halus?

 Sebagian para sejarawan telah sepakat menyamakan tokoh Batara Vojyaya dalam naskah Tome Pires tahun 1513 dengan Bhatara Prabhu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dalam prasasti Petak 1486. Apalagi selisih antara kedua naskah tersebut hanya 27 tahun. Jika benar Batara Vojyaya adalah ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, maka itu artinya Bhatara Prabhu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya adalah tokoh raja terakhir yang namanya menjadi legenda dalam Babad Tanah Jawi sebagai PRABU BRAWIJAYA, yang kemudian dalam naskah-naskah yang lain diberi embel-embel angka PRABU BRAWIJAYA V atau PRABU BRAWIJAYA PAMUNGKAS.

 Kemudian jika benar Patih Wahan dan Patih Thahan adalah orang yang sama, maka pada tahun 1486 yang menjadi perdana menteri Majapahit masih dirinya, dan kelak ketika pada tahun 1513 yang menjadi perdana menteri adalah putranya, yang bernama MAHODARA, atau oleh bangsa Portugis dikenal sebagai Guste Pate Amdura, atau Pate Udra.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Comments

comments