in

Panawijyan

Di unggah dari: patembayancitralekha.com

Penulis: Dwi Cahyono

BEDAH DESA SIMA DAN MANDALA PANAWIIJYAN :MUASAL KEN DEDES SANG ‘STRINARESWARI’

Gambaran Paleo-Ekologis

Letak Polowijen berada di bagian paling utara Kota Malang, tepat di perbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang. Polowijen maupun Bantaran yang terletak di sebelah selatannya dibelah oleh jalan poros purba, dengan arah utara-selatan. Jalan poros ini menghubungkan Kota Malang dengan Pasuruan, Surabaya, dan daerah-daerah lain di bagian utara. Jalur transportasi KA yang dibangun tahun 1876 juga membelah wilayah keduanya. Wilayah Polowijen dibelah pula oleh aliran Sungai Mewek, yang bertebing curam dan cukup lebar, dengan arah aliran barat-timur.

Sebagai permukiman lama, Polowijen menyisakan data lingkungan kuno. Salah satu diantaranya berupa sumber air besar. Sejak tahun 1990-an, sumber air yang oleh warga setempat dinamai dengan “Sendang Dedes” atau “Sumur Windu” ini mengering.  Antara lain lantaran pohon preh besar dan tua yang menjadi pemasok air baginya mati. Ironisnya, tepat di atas eks areal sendang dibangun cungkup pezirahan, yang menjadikan keberadaan sendang itu berakhir total.

Pembangunan cungkup baru tepat di atas situs merupakan contoh buruk yang musti dihindari. Meski niatnya baik, yakni nguri-uri (meng-hormati) tinggalan leluhur, namun bila tidak disertai dengan kepahaman akan cara yang benar untuk melestarikan cagar budaya justru menyebabkan hilang bahkan musnahnya pusaka budaya (heritage). Padahal, sekecil apapun tinggalan masa lalu merupakan informasi yang berharga. Sendang Dedes adalah sumber informasi paleo-ekologis yang berharga bagi situs Polowijen.

Keringnya sumber air besar di Polowijen itu seolah menjadi bukti tentang terkabulnya kutukan yang dijatuhkan (anibakaken samaya tan rahayu) oleh Pu Purwa, yang marah terhadap warga desanya di Panawijen lantaran tak memberi tahukan pada dirinya ketika Tunggul Ametung melarikan Ken Dedes untuk dikawini.

“Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk dan diambil istrinya. Demikian juga orang-orang di Panawijen ini, moga menjadi kering tempat mereka mengambil air (asata pangangsone), semoga tak keluar air kolamnya ini (tan metua banyu beji-ne), dosanya: mereka tak mau memberi tahu bahwa anakku dilarikan dengan paksaan” (Padmapuspita, 1966:17, 57).

Pada kutipan teks di atas, sumber air (beji) dimanfaatkan warga sebagai tempat mengangsu. Urgensi beji tergambar oleh banyaknya peninggalan arkeologi di areal makam di sekitar Sendang Dedes, seperti struktur bata, fragmen gerabah dan keramik, mata uang berlobang (kepeng, benggol), dsb. Ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di sebidang ladang sebelah utara Sendang Dedes (1998) berhasil menemukan fondasi rumah tinggal dari bata dan sebuah umpak.

Beberapakali warga Polowijen menemukan arung (saluran bawah tanah) ketika menggali sumur. Arah aliran dari Sendang Dedes menuju ke persawahan di lembah Kali Mewek. Temuan yang terakhir pada tahun 2012. Mulut arung berada di areal persawahan dekat Kali Mewek. Diprakirakan fungsi arung di Polowijen untuk mengairi persawahan. Posisi air di Kali Mewek lebih rendah daripada persawahan, sehingga persawahan itu tidak memungkinkan diairi oleh Kali Mewek. Untuk itu, dicarilah pemasok air dari Sendang Dedes dengan membuat saluran air bawah tanah (arung) berpangkal pada sumber air ini. Fungsi irigasinya diperkuat oleh kata “suwak (subak) dalam prasasti Kanyuruhan B (943 M), guna mengairi persawahan untuk jenis padi gaga (pagagan).

Desa Panawijyan pada abad X Masehi telah menjadi desa pertanian yang maju. Desa ini disebut dalam Prasasti Wurandungan (943 M.) sebagai desa perbatasan (wanwa tpi siring) dari Desa Wurandungan. Pemberitaan serupa didapatkan dalam Prasasti Kanyuruhan B, berkenaan dengan dua buah perdikan (sima) dalam watak Kanyuruhan:

(1) sima sawah di Tahun , dan

(2) sima sawah di Panawijyan (Brandes, OJO XLX, 1913).

Panawijyan adalah desa pertanian, Menilik statusnya sebagai desa sima, desa ini merupakan desa swasembada pangan. Secara administratif, Panawijyan termasuk dalam watak Kanuruhan di bagian paling utara, yang berbatasan dengan watak Hujung (Lutfi, 2003: 33).

Rekonstruksi Historis

Jejak Prasejarah dijumpai di situs Polowijen, berupa

(1) watu kenong, dan

(2) lumpang batu.

Bentuk dan fungsi watu kenong ini serupa dengan yang ditemukan di Tlogomas maupun di Ketawang Gede , hanya beda dalam sebutan. Pada ansambel gamelan Jawa, kenong berukuran lebih kecil dibanding gong. Pembedaan sebutan berkenaan dengan beda ukuran dari kedua atefak ini. Watu kenong di situs Polowijen dibuat dari bongkah batu andesit, dipangkas menjadi lempengan batu dengan sisi lingkar melengkung. Permukaan bawah dan atas rata, dengan spesifikasi tonjolan (pencu) di permukaan atas.

Deskripsi ukuran sebagai berikut: D lempeng: 40 cm, tebal lempeng: 20 cm, D bawah pencu: 9 cm, dan T pencu: 3 cm. Fungsinya sebagai pelandas tiang (umpak) rumah berpanggung.Dalam keberadaan sekarang tinggal sebuah watu kenong. Semula terdapat empat buah, bahkan lebih. Letaknya di tepi jalan desa, ± 300 m sebelah barat daya Sendang Dedes.

Menurut informasi warga, asalnya dari areal makam Polowijen. Jika benar demikian, berarti satu konteks dengan arfekak megalitik lainnya, yaitu lumpang, yang ditemukan di cekungan ± 50 cm sebelah selatan makam, tepatnya di timur jembatan pada tepi utara kali kecil. Artefak ini dibuat dari bongkah batu andesit. Lobang tumbuk tiga buah (D: 12 cm kedalaman: 5 cm; D: 10 cm kedalaman: 5 cm; dan D: 15 cm kedalaman : 6 cm), sehingga menyerupai bentuk watu dakon. Monolith ini bentuknya melempeng (P 40 cm L 60 cm, dan an Tb 30 cm). Fungsinya sebagai perangkat penumbuk biji-bijian. Keberadaan lumpang batu ini menguatkan bukti bahwa sejak Jaman Prasejarah, setidaknya pada masa Bercocok Tanam, Polowijen telah menjadi areal pertanian. Sumber air, sungai dan lokasinya pada lereng timur G. Arjuna menjadikan Polowijen sebagai areal pertanian yang potensial pada masa lampau.

Setelah lebih dari satu milenium tidak diperoleh informasi mengenai kesejarahan Polowijen. Pada abad X M. hadir data epigrafis yang menyinggung tentang Panawijyan, yaitu prasasti tembaga (tamraprasasti) Kanyuruhan B bertarikh Saka 865 (943 M), yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Pu Sindok. Prasasti ini berelasi dengan tamraprasasti Kanyuruhan A (Tahun: tak terbaca). Keduanya sama-sama membicarakan tentang bangunan suci di wilayah watak Kanyuruhan, Hujung dan Waharu, yaitu:

(1) Sang Hyang Pangawan,

(2) Sang Hyang Kaswangga,

(3) Sang Hyang Kagotran,

(4) Sang Hyang Kaswaban.

Pertanyaannya adalah: sima sawah di Panawijyan ini diperuntukkan bagi bangunan suci yang mana?Yang terang bukan untuk sang hyang Pangawan, sebab Pangawan berlokasi antara Singosari-Pakis, yang termasuk dalam wilayah watak Hujung. Bukan pula untuk sang hyang Kaswaban, karena Kaswaban terletak di daerah Pujon. Kaswaban kini menjadi “Ngabab”, yang termasuk dalam watak Waharu. Padahal Panawijen berada di watak Kanyuruhan. Berarti, peruntukannya adalah bagi dua kemungkinan lainnya, yaitu bagi sang hyang Kagotran, atau mungkin untuk sang hyang Kaswangga. Terlepas diperuntukkan bagi bangunan suci mana, yang terang sejak abad X M. warga di lingkungan Panawijyan adalah masyarakat yang religis.

Diantara tujuh lempeng Prasasti Kanyuruhan B tersebut, ada sebuah lempeng yang menyebut Panawijyan, yaitu lempeng IV sisi belakang (recto). Informasinya berkenaan dengan penetapan sima sawah di Panawijyan. Yang meliputi tiga bagian:

(1) 13 jong untuk sawah yang dinamai “kingkaburing” , yang diukur dengan tepat dari Kanuruhan,

(2) sawah untuk jenis padi gaga seluas 2 jong pada sebelah barat parhyangan,

(3) sawah untuk jenis padi gaga di sebelah barat gurubhakit . Dengan disebutnya kata “parhyangan”, berarti di Panawijyan terdapat tempat pemujaan dewa (Zoetmulder, 1995: 374).

Sayang tanpa disertai keterangan tentang dewata yang dipuja. Selain itu, terdapat kata “guru bhakti”, yang berarti tempat berbakti kepada guru (Zoetmulder, 1995:321). Istilah ini memberi gambaran tentang tempat pembelajaran, khususnya pembelajaran agama di bawah bimbingan guru (brahmacarin)”, atau lazim disebut “mandalakadewagurwan”.

Sayang tidak disertai keterangan tentang agama apa yang dipelajari, Hindu ataukah Buddhis?,Menurut informasi dari warga di Polowijen pernah terdapat arca-arca batu yang berlatar agama Hindu. Sayang sekali kini arca-arca tersebut telah tidak ada, sehingga tak diketahui asal masanya. Bila berkenaan dengan parhyangan ataupun guru bhakti, berarti bangunan suci dan tempat pembelajaran itu berlatarkan agama Hindu. Berarti pula, pada masa selanjutnya, yakni menjelang berdirinya kerajaan Tumapel (awal abad XIII M), terjadi perubahan keyakinan pada warga Panawijen dari Hindu ke Buddhis.

Menurut penuturan Pararaton, di Desa Panawijen tinggal komunitas Mahayana Buddhisme, yang dipimpin oleh Pu Purwa, yakni ayah dari Ken Dedes. Ia disebut sebagai boddhasthapaka (Padmapuspita, 1966:17). Secara harafiah,kata “stapaka” berarti: pendiri patung, pendeta pemimpin upacara yang bertugas memimpin upacara korban, pemimpin penjaga candi (Zoetmulder, 1995:1125). Jika merujuk pada alternatif arti terakhir, boleh jadi di Polowijen atau tak jauh darinya pernah terdapat candi Buddhis, yang kini belum diketemukan.

Desa Panawijen (kini Polowijen) dalam susastra tekstual maupun tradisi lisan dihubungkan dengan Ken Dedes, sehingga dapat difahami bila sumber air (beji) besar yang dahulu berada di sekitar areal makam umum Polowijen dinamai “Sendang Dedes”. Sementara saluran air bawah tanah (arung) yang beberapa kali ditemukan di desa ini dihubungkan dengan Maling Curing atau Maling Angguno, yang dikisahkan sebagai orang yang melarikan Ken Dedes untuk dikawininya. Kisah mengenai Ken Dedes terbilang cukup panjang menempati paro pertama dari Pararaton. Menurut susastra ini, Ken Dedes adalah putri tunggal dari Pu Purwa.

“Kemudian adalah seorang bhujangga pemeluk agama Buddha (bhujangga boddhasthapaka), menganut aliran Mahayana, bertugas di ksetra-nya orang Panawijen, bernama Pu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik molek (listu hayu)nya, bernama Ken Dedes. Dikabarkan bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya, termasyhur di sebelah timur Gunung Kawi sampai Tumapel………………@ (Padmapuspita, 1966:57).

Pada kutipan teks di atas, Pu Purwa adalah bhujangga atau pendeta, yang menganut Mahayana Buddhisme. Ia bertugas menjaga bangunan suci (sthapaka) Buddhis di Panawijen. Putri tunggalnya bernama Ken Dedes, yang dilukiskan seBagai wanita cantik dengan perkataan:

(a) listu hanya (cantik molek),

(b) kawerta yen hayu, tan hana amadani rupanira (terkabar sebagai cantik, tiada yang menya-mainya),

(c) rara hayu,

(d) hayu anulus (kecantikan yang sempurna).

Ken Dedes oleh Pararaton tak hanya dilukisakan sebagai yang cantik secara lahiryah, namun perilakunya tercerahkan, yang diistilahi sebagai mendapatkan “karmamadangi” (Cahyono, 2011). Demi mendengar rumor tentang kecantikan Ken Dedes, akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung datang di Panawijen, langsung menuju ke dusun Mpu Purwa (dateng ing Panawijen, anjujug maring dukuhira Mpu Purwa) untuk meminangnya.

Berbeda dengan Situs Polowijen yang memiliki detail sejarah, kesejarahan Bantaran hanya sedikit yang berhasil diketahui, yakni sebatas informasi sekilas dari Prasasti Gulung-gulung 9851 Saka = 929 M) di Lowokjati Songsari. Prasasti yang ditulis pada masa pemerintahan Pu Sindok ini antara lain menyebut sebidang hutan di Bantaran untuk dijadikan sima, dengan tujuan menjadikannya tanah wakaf (dharmmaksetra) berupa sawah bagi bangunan suci Rakryan Hujung, yaitu mahaprasadha di Himad. Penghasilan sawah itu juga diperuntukkan bagi persembahan kepada Sang Hyang Kahyangan di Pangawan, berupa seekor kambing dan 1 pada beras, yang diadakan setahun sekali pada waktu ada upacara pemujaan bagi Bhattara yang ada di Pangawan.

Tersirat dalam informasi ini adalah pembukaan areal hutan di Bantaran untuk dijadikan persawahan. Nama “Bantaran” kini masih dijumpai sebagai nama daerah di sebelah selatan Polowijen. Kala itu (abad X M) di daerah ini masih terdapat areal hutan yang bertetangga dengan areal permukiman Panawijyan. Daerah Bantaran masuk dalam wilayah kekuasaan Rakryan Hujung. Topografinya yang datar dan adanya aliran sungai kecil di Bantaran jadi pertimbangan untuk menjadikannya sebagai persawahan. Sawah yang baru dibuka di Bantaran tersebut berstatatus perdikan (sima) yang berupa tanah wakaf (dharmmaaksetra) bagi kepentingan upacara keagamaan bangunan suci yang terletak di lereng barat Tengger.

Situs Klasik yang Kian Terlupakan

Demikian paparan ringkas mengenai desa kuno ‘Panawijyan’ yang pada abad X M telah menyandang status ‘sima (swatantra)‘, yakni sebuah desa agraris yang terbilang maju pada jamannya. Bahkan, memasuki akhir abad XII atau awal abad XIII M, desa yang dalam kitab gancaran Pararaton dinamai dengan ‘Panawijen’ berkembang menjadi mandala Mahayana Buddhisme yang dipimpin oleh Pu Purwa, yang tiada lain adalah ayahanda dari Ken Dedes.

Kini desa kuno tersebut beralih sebutan sedikit menjadi ‘Polowijen’, suatu kelurahan di pinggiran Kota Malang yang tengah bermetamorfosis dari pedesaan (rural) ke perkotaan (urban). Seiring dengan itu, jejak budaya masa lampau, abik artefaktual, ekofaktual ataupun tradisi lisan yang berkenaan dengan Panawijyan dan Ken Dedes kian terpinggirkan, bahkan nyaris dilupakan. Padahal jejak itu menjadi pembukti bahwa Kota Malang adalah wilayah padamana kehidupan Ken Deses sang Strinareswari bermula.

Keberadaan Taman Ken Dedes, yang kebetulan disertai dengan arca Prajnaparamita (de potrait Ken Dedes) berukuran amat besar seakan berlasi satu sama lain, yang menegaskan pada orang-orang yang hidup pada masa sekarang bahwa basis edukasi telah tertanam jauh di Bhumi Malang semenjak Masa Hindu-Buddha. Arca Prajanaparamita (Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi) dan Mandala Panawijen menjadi fakta bahwa basis ‘Kota Pendidikan’ bagi Malangraya.

Semoga kelak, Pemkot Malang dan juga Pemkab Malang yang sama-sama mewarisi jejak Ken Dedes berbuat bijak kearah konservasi dan funsionalisasi khasanah sejarah dan budaya yang berkenaan dengan Ken Dedes, sebagai Ikon Malang dari Masa Klasik. Besar harapan saya tulisan ini membuahkan makna.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Majaphit dalam Kisah Panji

Desa Sima Karuman