in

Amangkurat

Diunggah dari : https://mataramislam.wordpress.com

Penulis : Rendroko

I.  Umum

Tulisan ini merupakan sebuah kajian terhadap paradigma suatu pemerintahan / rezim pada masa Raja Raja Mataram yang berkuasa dari tahun 1646 hingga tahun 1742.  Dengan suatu pertimbangan para Raja Amangkurat ini tidaklah terlalu jauh masanya dari jaman sekarang dan beberapa sisa peninggalan / catatan tidak terlalu susah mendapatkannya, walaupun demikian kita sebagai generasi sesudah itu, maka kita perlu dengan tekun untuk menggali dan menemukan hikmah-hikmah yang ada dari cerita ini.

Alasan Amangkurat yang kita pergunakan sebagai pembanding, mengapa…… ? Bukankah Sultan Agung atau Hayam Wuruk yang lebih memiliki prestasi membanggakan didalam sejarah Indonesia, hal ini terkandung maksud agar dapat dijadikan pelajaran bagi generasi bangsa Indonesia saat ini, untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh Pendahulu kita. Raja Amangkuratlah sebagai titik balik dari kerajaan Mataram yang merupakan peradaban orang Jawa secara khusus dan orang Indonesia secara umum.

Bagaimana kita lihat saat ini, tatkala mendapat amanah sebagai Raja Mataram, didalam menjalankan roda pemerintah memberikan suatu gambaran kepada kita sebagai hal-hal yang kontra produktif dibanding saat setelah reformasi dewasa ini dimana raja Mataram sangat otoriter dan masih belum memiliki wawasan kebangsaan yang memadai.  Sebetulnya raja-raja Mataram ini sudah mendapat warisan dari pendahulunya yaitu Sultan Agung yang luar biasa, berupa wilayah meliputi hampir seluruh Pulau Jawa. Sebetulnya sang raja sudah merasakan adanya ancaman disintegrasi, dikarenakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah diperbuatnya sendiri, yang tidak populis baik kepada masyarakat maupun para kerabat, tetapi mengapa itu tidak diselesaikan saja secara proporsional atau dengan semestinya.

Hal itu diakibatkan karena watak / perilaku yang dimiliki oleh para Amangkurat ini sebetulnya adalah seorang bangsawan / priyayi Jawa dan tokoh yang beragama Islam sebagai warisan dari para Wali Sanga yang mendapat gelar sebagai kalifatulah ing tanah Jawi, namun amanah ini tidak dijalankan justru  watak / perilaku orang bawahan yang diikuti. Hal ini ditunjukkan oleh keengganan beliau (terlihat malas) untuk mengasah ketrampilan didalam berkomunikasi terhadap kerabat, masyarakat dan sekitarnya, terlebih  lingkungan strategis saat itu yang sedang dinamis.  Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pada masa itu Indonesia sedang di serbu oleh bangsa Barat untuk mencari rempah-rempah / Sumber Daya dalam mengukuhkan supremasi di dunia, setelah dirintis Colombus untuk mencari India, yang dilanjutkan dengan penjelajah-penjelajah lain.

Pada akhirnya Kerajaan itu porak poranda tiada terkira dikarenakan terlalu bergelimangnya kesalahan yang diperbuat oleh beberapa Raja-raja Mataram. Beberapa hal yang fatal didalam menegakkan suatu kedaulatan adalah tidak mampunya sang Raja berkomunikasi dengan para kerabatnya, maupun rakyatnya dan yang paling fatal adalah dengan memutar balikkan ajaran Agama yang dianut dalam pemerintahannya.

Sekali lagi kami mohon maaf kepada pihak tertentu yang tidak sependapat dengan tulisan ini, penulis bersedia dikritik asal dengan cara yang lebih ilmiah dan jawaban yang sebenarnya

II. Keamangkuratan

1.  Amangkurat I (1646 s/d 1677)

Merupakan anak tertua dari Sultan Agung dan Raden Ayu Wetan (Kanjeng Ratu Kulon), bernama Mas Sayidin / Arya Mataram yang menikah dengan anak bibinya Ratu Pandan Sari (Adik kandung sultan Agung) dengan Pangeran Pekik, yang merupakan Adipati Surabaya.

Saat menerima warisan dari Orang tuanya berupa kerajaan Mataram, wilayah kekuasaannya meliputi hampir semua tanah Jawa kecuali Banten, Batavia  di Barat dan Blambangan di Timur.  Namun Blambangan pada akhirnya dapat ditundukkan oleh Mataram.

Peristiwa yang membuat kerajaan Mataram runtuh dikarenakan keinginan Amangkurat I memiliki selir yang masih dibawah umur yang bernama Roro Oyi, karena belum akil baliq, maka dititipkanlah kepada orang tuanya, namun Anak dari Amangkurat I yang kelak menjadi Amangkurat II (Adipati Anom), juga ikut menyenangi Roro Oyi karena senangnya sampai-sampai sakit yang tidak dapat sembuh-sembuh.  Kemudian kakeknya Pangeran Pekik dan ratu Pandan sari meminta kepada orang tua Roro Oyi, yang kebetulan orang Surabaya.

Orang tua Roro Oyi akhirnya menyerahkan anaknya pada Pangeran Pekik dan menikahkan dengan Amangkurat II tanpa memberitahu Amangkurat I, yang pada akhirnya Amangkurat I marah sekali dan membunuh Pangeran Pekik serta bibinya sendiri Ratu Pandansari beserta pembantu-pembantunya sebanyak 40

orang, dengan tangan sendiri, termasuk menyuruh Amangkurat II membunuh Roro Oyi sendiri (tahun 1659).   Karena peristiwa tragis ini, membuat Adipati Anom (Amangkurat II) sakit hati dalam waktu lama,  pada suatu ketika teringat akan Kakeknya yang memiliki kerabat  yaitu Panembahan Rama di Kajoran yang masih kerabat  dengan Pangeran Pekik.

Yang menyarankan untuk meminta bantuan Pangeran Trunojoyo putra Adipati Cakraningrat.   Pada saat Adipati Anom meminta bantuan Pangeran Trunojoyo inilah yang membuat seolah Pangeran itu mendapat restu dari kerabat Kraton. Ketidak sukaan Pangeran Trunojoyo terhadap Amangkurat I disebabkan oleh tindakan yang semena-mena membunuh Ulama-ulama yang tidak sehaluan, menurut beberapa catatan yang tidak termuat dalam Babad Tanah Jawi, telah terjadi pembantaian lebih dari 6000 (enam ribu) orang ulama (tahun 1661 – 1670),  contoh yang terjadi di Giri, Gresik, banyak Ulama sudah tidak respect lagi terhadap sang Raja, dikarenakan sedang gandrung dengan hal-hal yang cenderung pada klenik / Supra Natural dengan tendensi akan suatu ramalan / Aliran Kepercayaan (Kawulo Gusti) yang cenderung sesat dari sudut pandangan Islam menyimpang dari ajaran-ajaran tauhid.

Sebenarnya gelagat Trunojoyo sudah diketahui oleh Amangkurat I, sehingga dikirim armada ke Surabaya (tahun 1675) sebanyak 3 kali dengan dibantu oleh VOC (Joan Maetsuycker), namun semuanya gagal, bahkan pada penyerangan yang terakhir inilah. Saat sisa pasukan mataram sedang kembali, ternyata Trunojoyo melalui poros Kediri langsung menuju ke Ibukota. Jadi Mataram diserang melalui 2(dua) arah, baik dari utara maupun dari Timur.   Sehingga terjadilah penyerbuan oleh Pangeran Trunojoyo terhadap Plered (ibukota Mataram saat itu), yang membuat Amangkurat I lari dari Plered menuju ke Batavia untuk meminta bantuan VOC namun baru sampai di Tegalarum meninggal dunia karena diracun oleh Adipati Anom (Amangkurat II).

2.  Amangkurat II (1677 s/d 1703)

Persahabatan dengan Pangeran Trunojoyo telah berakhir karena dianggap melampaui batas, salah satunya dikarenakan telah menjarah kraton dan lambang kebesaran peninggalan Majapahit dengan meminta bantuan VOC (Cornelis Janszoon Speelman). Pangeran Trunojoyo menyingkir ke Kediri akhirnya Pangeran Truno Joyo dapat ditangkap dan dibunuh sendiri dengan sadis oleh Amangkurat II (tahun 1679).  Disini Mahkota Majapahit masih dapat dikembalikan kepada Amangkurat II oleh Trunojoyo.

Permasalahan tidak berakhir disitu dengan adanya 2 (dua) raja satu di Karta sura dengan raja Amangkurat II sedangkan di Plered dengan raja Pangeran Puger terjadilah perang dengan dukungan VOC, dan Amangkurat II dapat mengalahkan Pangeran Puger. Akibat dari kejadian ini Mataram kehilangan Cirebon dan Priangan

diserahkan kepada VOC sebagai ganjaran. Pada masa Amangkurat II, Mataram sudah kehilangan wilayah dan akan diikuti oleh wilayah-wilayah lainnya.

Sebetulnya Amangkurat II yang bernama asli Raden Mas Rahmat ini tidak senang dengan VOC, tetapi karena terpaksa terusir saat menolong bapaknya Amangkurat I saat melarikan diri ke Tegal, hal ini bisa dilihat dari kebijakan beliau saat membantu Untung Suropati yang merupakan buronan VOC, kemudian diangkat menjadi Adipati Pasuruan.

3. Amangkurat III (1703 s/d 17 Juli 1708)

Sangatlah disayangkan masa pemerintahan Amangkurat III (Sunan Mas) ini tiadaklah berlangsung lama, sebagai akibat pemberontakan oleh pamannya sendiri Pangeran Puger dan juga watak / perangai Amangkurat III sendiri terlalu liar, yang tidak bisa menempatkan diri sebagai seorang raja.  Sebagai contoh melakukan pelecehan seksual (pemerkosaan) terhadap Istri Adipati Cakraningrat (Raden Ayu Pakuwati) dari Madura yang sedang menghadiri 100 hari meninggalnya Amangkurat II, kemudian saat menikahi putri Pangeran Puger (Raden Ayu Lembah) Amangkurat III, tidak memperlakukan sebagaimana mestinya sehingga Raden Ayu  Lembah minggat pulang ke rumah, namun Pangeran Puger marah menyuruh adik-adik Raden Ayu  Lembah membunuh kakaknya sendiri.

Saat meminta bantuan VOC (Willem Van Outhoorn), ternyata Pangeran Puger sudah lebih dulu, akhirnya sang raja meminta bantuan Untung Suropati di Pasuruan.  Yang menjadikan dalih bagi VOC untuk menangkap Untung Suropati dengan bantuan Pangeran Puger.  Akhirnya beliau ditangkap di Surabaya dan dibuang ke Sri Langka (tahun 1708).   Akibat penangkapan ini Mahkota Majapahit yang merupakan tanda kebesaran warisan dari Ken Arok, sebagai tanda kebesaran kerajaan sebelumnya mulai dari Kerajaan Pajang, Demak hingga Majapahit, telah hilang hingga sekarang.

4.  Pakubuwono I (18 Maret 1705 s/d 1719)

Merupakan Adik Amangkurat II yaitu Pangeran Puger, namun dari ibu yang berbeda dengan nama asli Raden Mas Drajat. Dikukuhkan sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono I di Semarang oleh dukungan VOC, hal ini dilakukan karena Pangeran Puger tidak suka dengan perangai Amangkurat III.   Dan dianggap sebagai tanda-tanda akan runtuhnya Mataram telah berada didepan mata.

Hal yang tragis dalam diri Pangeran Puger adalah menyuruh membunuh anaknya sendiri (Raden Ayu Lembah), di karenakan malu terhadap kakaknya Amangkurat II, ini mengingatkan kita pada masa Jahiliyah Mekkah dimana Orang Tua tega membunuh hidup-hidup anaknya sendiri.  Yang lain adalah menghukum gantung Adipati Jangrana dari Surabaya, sebagai akibat permintaan VOC yang dilakukan tanpa memberikan perlindungan yang berarti terhadap bawahannya tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Ini merupakan kesalahan fatal buat Pakubuwono, karena penghukuman ini dilihat oleh adik-adiknya Jaya Puspita dan Surengrana.

5.  Amangkurat IV (1719 s/d 1726)

Raja yang mendapat panggilan Sunan Prabu, sangatlah tidak tegas, begitu mudah percayanya pada berbagai ramalan yang sesat yang mengatakan bahwa VOC lah, yang akan melindungi keturunan Mataram. Ibarat kanker yang sudah kronis, maka kesempatan itu dimanfaatkan oleh VOC mendukung penuh Amangkurat IV dalam melawan pemberontakan dari para bangsawan antara lain Pangeran Purbaya dan Pangeran Balitar (Meninggal di daerah Malang) yang merupakan adiknya sendiri ditambah Panembahan Heru Cakra dari Madiun yang akhirnya dibuang ke Afrika Selatan.

6.  Pakubuwono II (1727 s/d 1747)

Raja yang bersifat mendua, menyebabkan semakin runcingnya intrik keluarga, sebenarnya anti VOC, hal ini dilakukan pada saat mengirim misi rahasia yang dipimpin Patih Noto kusumo ke benteng VOC di Semarang. Gubernur Jenderal VOC  Valkenir ternyata jeli dalam mempermainkan bidak catur perpolitikan saat itu dibandingkan dengan raja Paku Buwono II.

Saat benteng VOC di Semarang dapat dikalahkan dan mengetahui  adanya pasukan Mataram di benteng VOC tersebut, bahkan mengetahui Patih Notokusumo yang berarti misi rahasia telah gagal.  Yang lebih parah lagi Paku Buwono II tidak jeli dalam berpolitik dan rendahnya kemampuan tawar dengan pihak VOC, dengan menelan apa saja yang dimaui oleh VOC (terulangnya pembunuhan oleh Adipati Jangrana).

Ternyata kebijakan ini berupa penangkapan Patih Notokusumo dan melaksanakan hukum buang ke Sri Langka berbuntut panjang, karena berbagai kalangan menganggap raja telah mengkhianati negara dan bangsanya sendiri dengan vulgar.

Pada gilirannya sang Raja ditinggal dan dimusuhi rakyatnya, berupa pemberontakan Raden Mas Garendi, yang berhasil merebut Kartosuro, sehingga raja lari ke Ponorogo.  Karena egonya lebih tinggi dari kenyataan atau kemampuannya  maka diterimanya tawaran VOC, tidak pernah dipikir secara jangka panjang dampak apa yang terjadi bila sudah melakukan kerjasama dengan VOC.

Walupun dapat mengalahkan Amangkurat V, ternyata VOC menagih semua wilayah Mataram seluas 138.442 karya.  Kebijaksanaan in semakin tidak disukai oleh kalangan elit kerajaan. Diawali oleh penolakan Raden Mas Said (putra pangeran Mangkunegoro yang dibuang ke Sri Langka yang merupakan adik Paku Buwono II lain ibu) dengan dibantu mertuanya Pangeran Mangkubumi (kelak menjadi Hamengku Buwono I) dapat menduduki Sukowati (sekarang Sragen).

Karena kewalahan dengan perlawan Raden Mas Said kemudian Paku Buwono II menjanjikan siapa yang dapat mengusir   Raden Mas Said dari Sukowati, maka akan dihadiahi wilayah itu.   Janji ini membuat Pangeran Mangkubumi berbalik melawan Raden Mas Said, yang ternyata pangeran Mangkubumi dapat mengusir menantunya sendiri Raden Mas Said.

Namun janji Paku Buwono II ini dimentahkan oleh Gubernur Jenderal VOC Van Imhoff

7.  Amangkurat V (1742 s/d 1743)

Mengangkat dirinya sebagai raja yang mendapat dukungan dari orang-orang Tionghoa, hal ini disebabkan karena sikap plin-plan yang mendua dari saudara Paku Buwono II, disatu sisi anti VOC namun disisi lain patuh pada perintah VOC dengan menangkap patihnya sendiri Pangeran Notokusumo untuk diserahkan ke VOC kemudian dibuang  ke Sri Langka. Hal ini terjadi sebagai akibat perintah Paku Buwono II untuk membantu secara diam-diam pemberontakan orang Tiong Hoa di Semarang yang dipimpin oleh Tai Wan Sui.  Nama sebenarnya adalah Raden Mas Garendi dengan sebutan sebagai Sunan Kuning, merupakan cucu Amangkurat III.

Berhasil mengusir raja Paku Buwono II dari keraton Kartosuro hingga lari ke Ponorogo, dalam mengisi kekosongan raja di Mataram maka Raden Mas Garendi dinobatkan sebagai Amangkurat V.  Namun akhirnya Paku Buwono II, meminta bantuan kepada VOC agar dapat kembali berkuasa, dengan dalih ini VOC dapat memperluas kekuasaannya hampir seluruh wilayah Jawa.

Dengan pasukan yang cukup besar Paku Buwono II dibantu oleh VOC dan Madura, melawan pasukan Amangkurat V dengan dukungan orang-orang Tionghoa dapat dikalahkan dan kemudian beliau ditangkap dan dibuang ke Sri Langka.

III.  Sebelum Era Amangkurat

8.  Amanah Wali Sanga

Murid dari salah satu Wali Sanga yaitu Sunan Kalijaga di Kadilangu adalah Ki Ageng Sela yang digambarkan sebagai warga pinggiran biasa, namun memiliki kemampuan menangkap petir.  Sebenarnya masyarakat Jawa belum sepenuhnya memahami Agama Islam, akan tetapi pengaruh ajaran Islam terhadap suasana politik sudah demikian kentalnya.

Bersama Joko Tingkir, merekayasa kerbau yang mengamuk agar dapat dijinakkan, sehingga membuat Joko Tingkir dihadiahi oleh Sultan Trenggono menjadi Adipati Pajang

9.  Bersatunya Tanah Jawa

Bersatunya tanah Jawa dapat terwujud pada masa Sultan Agung, ditandai dengan terebutnya benteng VOC di Batavia.  Namun hal ini tidak bertahan lama dalam hitungan bulan oleh para prajurit Mataram, dikarenakan distribusi logistik yang digunakan kurang tepat.

Bersatunya tanah Jawa, merupakan kebesaran Illahi dalam perwujudan ajaran Islam meliputi Banten hingga Banyuwangi ditambah Madura,

IV. Setelah Era Amangkurat

Upaya mengembalikan kejayaan kerajaan Mataram benar-benar berakhir dengan kegagalan Pangeran Diponegoro dalam perang selama 5 tahun, yang menewaskan kurang lebih 100.000 orang, sehingga menghabiskan penduduk Yogyakarta, berikut kita lihat tahapan sampai kepada Pangeran Diponegoro.

V.  VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) (20 Maret 1602 s/d 1 Januari 1800)

Merupakan Kongsi dagang pada awalnya, namun akhirnya berubah menjadi monster yang mengerikan bagi bangsa Indonesia.   Walaupun hanya kongsi dagang namun pada kenyataan memiliki wewenang yang lebih besar dari pada suatu Negara, dimana didalamnya terdapat pemilik-pemilik saham yang cukup modal untuk memonopoli komoditas-komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat itu.

Sebetulnya Belanda memiliki 2 (dua) kongsi dagang yaitu selain VOC juga VWC dengan mendirikan koloni-koloni, sedangkan VOC sendiri awalnya merupakan kongsi dagang, dengan memiliki pos / cabang mulai dari Tanjung Harapan (Afrika Selatan), Persia (Iran), Bengal (Bangladesh), Srilangka, Siam (Thailand), Kanton (China daratan), Koxinga (Formosa / Taiwan), Deshima (Nagasaki, Jepang)  dan Indonesia. Pada tahun 1669 merupakan masa keemasan bagi VOC dalam sepanjang sejarah untuk kekayaan pribadi dengan memiliki armada 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, 10.000 tentara dan sanggup membayar dividen sebesar 40 %.

Dalam mengendalikan jajahannya maka VOC mempergunakan orang-orang setempat untuk dijadikan budak-budak, sebagai misal pada masa Amangkurat merekrut orang Maluku, Madura, Makasar dan Bali.  Sehingga dalam kenyataan dilapangan sebenarnya yang berperang saat itu adalah sesama orang Indonesia.  Namun hal ini memberi nilai tambah lain dengan lebih banyaknya hubungan antar anak bangsa Indonesia yang pada akhirnya membangkitkan timbulnya semangat persatuan dan kesatuan.

Peristiwa kelam yang dihadapi oleh anak bangsa negeri ini adalah ketika tahun 1623, saat Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterzoon Coen (I 1619 – 1623 dan II 1627 – 1629) menjabat yang pertama, karena dendam terhadap pembunuhan atasannya Pieter Willemszoon Verhoeff pada tahun 1610, dengan dalih yang sama  Coen melakukan Genosida terhadap penduduk Pulau Banda pada tahun 1623, karena pada saat itu dihabiskan sama sekali dan tidak bersisa.  Dan sampai sekarang belum ada seorangpun di Indonesia maupun dunia mengungkit masalah ini kepada Mahkamah Internasional sebagai suatu kejahatan pemerintah negeri Belanda terhadap kemanusiaan.

Asal muasal bangsa Belanda sendiri menjajah Indonesia disebabkan setelah kemerdekaan dari Spanyol yang baru diakui pada tanggal 20 Januari 1648 walaupun proklamasinya sendiri sejak tanggal 26 Juli 1581 (sekitar 57 tahun), sehingga tidaklah mengherankan jika teknologi yang diperoleh dari bekas negara yang menjajah Spanyol dimanfaatkan untuk dipergunakan mengeksplorasi daerah seberang lautan.  Hingga pecahnya revolusi Perancis yang menyebabkan Belanda dijajah oleh Napoleon Bonaparte (tahun 1791 – 1815), dimana Belanda saat itu masih berbentuk Republik.

Pada saat itulah yang menyebabkan bubarnya VOC, hal ini menyebabkan tanah jajahan Indonesia diserahkan kepada kerajaan Belanda sesuai dengan perjanjian Wina tahun 1815, yang memaksa Belanda merubah bentuk negaranya dari Republik kembali menjadi kerajaan.

VI.  Hal-hal yang perlu untuk diperhatikan.

Kalau kita melihat uraian diatas maka kita akan menyimak saat-saat kehancuran kerajaan Mataram yang kemungkinan disebabkan oleh permasalahan sangat sepele antara lain :

1. Mengapa Amangkurat I harus membunuh Pangeran Pekik sebagai mertuanya sendiri, karena hanya menginginkan Selir Roro Oyi  ?

2. Masih mungkinkah untuk mengampuni seorang Pangeran Trunojoyo oleh Amangkurat II  ?

3.  Mengapa tidak bisa melindungi seorang Adipati Jangrana oleh Pakubuwono I ?

4.  Tidak bisakah seorang Raja untuk tidak membiarkan rivalnya dibuang ke tempat pembuangan ?

Beberapa pertanyaan tersebut diatas juga merupakan beberapa pertanyaan mengkait pada suatu sifat sebagai seorang kesatria yang tidak dipenuhi oleh sang Raja, yang seharusnya dipenuhi seorang pemimpin secara mutlak dimiliki secara universal.

Bagaimana pola pikir terlampau sempit bangsa kita saat itu, yang berkutat hanya pada permasalahan intrik-intrik pada perebutan warisan keluarga belaka, meramal masa yang akan datang (ingat hal ini dilakukan oleh raja Firaun dari Mesir) dan yang membuat kita tersenyum lagi adalah hanya memperebutkan seorang selir, negara Mataram digadaikan, sementara VOC sebagai musuh kita sudah memiliki wawasan global.

VII.  Komparasi dengan keadaan NKRI saat ini

1. Bung Karno

Memiliki watak yang hampir sama melaksanakan Poligami, tanpa memiliki persepsi yang sama dengan Rasulullah Saw, lebih sekularistik ketimbang agamis / spiritualis, sehingga membuat lemahnya dukungan rakyat saat akhir pemerintahan.   Selain itu pernah terbuang / terusir dari pemerintahannya.   Juga menghilangkan demokrasi yang sudah ada sebelumnya misalnya pada Bung Karno awalnya menganut Demokrasi Liberal namun beralih kepada Demokrasi Terpimpin, demikian juga Amangkurat yang semula oleh Sultan Agung sudah dibentuk Majelis Purumpara, yang merupakan dewan penasehat dari berbagai wilayah yang diduduki namun pada masa Amangkurat ditiadakan termasuk anggota Majelis itu sebenarnya adalah orang tua Pangeran Trunojoyo.

Perbedaan lainnya kalau Bung Karno anti Barat, sedangkan Amangkurat I s/d IV, menganggap Barat (VOC) sebagai tempat bersandar, sebagai akibat suatu ramalan yang mengatakan kalau Belanda itu yang akan melindungi keturunan Mataram.  Strategi anti Barat dan Pro Barat adalah hal yang sama karena kedua rezim kurang peka akan permasalahan rakyat jelata, jadi yang harus menanggung penderitaan dan kerugian adalah rakyat jelatanya.

Kelebihan Bung Karno dibanding Amangkurat adalah Bung Karno lebih visioner dan terbuka jika diperbandingkan dengan Amangkurat, namun pada akhirnya munculnya gejala korupsi.  Dan adanya konspirasi barat dalam kejatuhannya seperti dalam kejadian G30S / PKI adalah merupakan operasi CIA walaupun dibantah oleh Amerika Serikat, namun masyarakat luas di Indonesia dan Internasional sudah dapat memastikan sebagai operasi CIA.

2.   Komparasi dengan Orde Baru

Memiliki kesamaan yang hampir sama persis, tidak visioner ditambah korupsi yang luar biasa hebatnya dibandingkan dengan Amangkurat, maka Orde Baru jauh lebih signifikans, sehingga negara ini kehilangan kekayaan karena kekayaan itu telah berpindah tangan kepada masing-masing pribadi.  Selain dari pada itu kedua rezim awalnya sukses namun saat akhir kekuasaan tidak menyenangkan, hanya bedanya pada rezim Orde Baru memiliki beberapa terobosan untuk memajukan rakyatnya, walaupun kedua rezim pemerintahan dicurahkan untuk mengamankan kelanggengan  rezimnya, karena sama-sama dihadapkan pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tidak Populis yang dibuat oleh mereka sendiri.

Demikian juga terhadap hubungan dengan barat maka dapat dikatakan kalau Orde Baru dan Amangkurat sangatlah erat dengan pengaruh barat, hal ini dapat dilihat jelas pada penambangan Emas di Freeport Timika.  Kita melihat bahwa bangsa Indonesia ditodong untuk memberi konsesi kepada perusahaan Amerika Serikat dengan ancaman separatis Papua.  Bila diperbandingkan dengan saat Amangkurat II kehilangan Priangan dan Cirebon, saat VOC membantu melawan Trunojoyo dan Pangeran Puger.

3.   Era Reformasi

Perbedaan antara Amangkurat dengan Reformasi adalah suatu yang sangat keterbukaan pemerintahan sangatlah dirasakan karena saat ini bila semua punya alasan kuat maka mereka bisa saja membantah / membangkang, sehingga kebablasan visionernya dan luar biasa vulgarnya.

Namun pada era Reformasi ini, justru sifat-sifat negatif dari raja Amangkurat itulah yang ditiru masyarakat kebanyakan saat ini sehingga akan sama saja situasi, dikhawatirkan semua akan tertimpa bencana dalam skala yang besar.  Dan yang mencengangkan adalah orang dari trah sembarangan yang memegang kekuasaan bukan dari golongan yang dimuliakan.

Sebagai contoh Banyak Preman yang dapat menjabat sebagai pemegang kekuasaan, hal ini mengingatkan kita pada era koboi di Amerika.  Namun perlu diingat bahwa geopolitik Indonesia saat ini tidaklah sama dengan geopolitik saat jaman koboi, sehingga masyarakat Indonesia saat telah dilanda kecemasan yang mendalam terhadap masa depan bangsanya karena preman itu telah mengancam masyarakat untuk memilih preman sebagai penguasa.  Setelah preman berkuasa dia mengkorupsi kekayaan bangsanya untuk golongannya sendiri tanpa menghiraukan rakyat Indonesia lainnya.

Pemimpin tidak memiliki kekuasaan yang memadai, pembangkangan beberapa elemen rakyat, penyerobotan atas kekayaan Negara dan korupsi sangatlah signifikans tanpa adanya tindakan yang terlalu memadai dari tokoh-tokoh politik dikarenakan takut kehilangan pamor.  Kurang dewasanya calon pemimpin puncak yang tidak menjunjung sportifitas tinggi, sehingga hal ini dicontoh oleh kalangan bawah.

Apalagi bila dilihat saat munculnya reformasi bangsa Indonesia masih dalam bayang-bayang IMF (International Moneter Fund) yang terlihat dengan sangat visioner mencampuri urusan dalam negeri untuk melemahkan bargaining position (posisi tawar) bangsa Indonesia, sehingga kita saat ini betul-betul terjajah oleh Barat.

VIII.  Analisa  Swot

Marilah kita tinjau Geopolitik Amangkurat pada saat itu, dengan melihat Analisa SWOT, diharapkan kita semua dapat melihat apa yang menjadi penyebab runtuhnya Mataram, bila dilihat  Analisa Swot, sebagai alat formulasi strategi, maka analisa ini diharapkan dapat mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi suatu pemerintah, dengan melihat bagan dibawah ini  marilah kita bersama faktor-faktor yang mempengaruhi kedalam rumusan dibawah :

…..

Dari keempat kwadran diatas, sebenarnya harus dilaksanakan oleh para Manajer, terutama para pemegang otoritas, dalam tulisan ini adalah Amangkurat, bila dalam keempat strategi itu dapat dilaksanakan pada saat itu.    Selain dari pada keempat kwadran tersebut diatas, perlunya untuk kembali pada pembahasan SWOT itu sendiri yaitu (Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), Threats (Ancaman)), berikut ini bahasannya :

1.  Kekuatan (Strengths)

a. Memiliki Kharisma, pamor, karomah, kewibawaan, ketauladanan yang diperlukan oleh rakyat pada saat itu.

b. Jumlah pasukan yang banyak dan terlatih sebagai warisan Sultan Agung, ditambah daerah taklukannya sebagai contoh  Tidak membunuh Pangeran Pekik, Trunojoyo dan Adipati Jangrana.

c.  Kekuatan Spiritual yang ada dari para Wali yang harusnya dibangkitkan kepada masyarakat Mataram, sebagai contoh saat Sunan Gunung Jati dan pangeran Jaya karta mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

2.  Kelemahan (Weaknesses)

a.  Memiliki perangai yang tidak stabil / gampang marah, rendahnya EQ (Emotional Quotient / Kecerdasan Emosional).

b.  Mulai meninggalkan nilai keagamaan dan sangat percaya pada ramalan dan takhayul ditandai dengan pembantaian terhadap beberapa Ulama (tahun 1661 – 1670), rendahnya SQ (Spiritual Quotient / kecerdasan Spiritual).

c.  Keengganan mengambil terobosan-terobosan baru, dan menyerah begitu saja kepada ramalan-ramalan yang belum tentu kebenarannya, selain dari pada itu rendahnya IQ (Intelectual Quotient / Kecerdasan Intelektual).

d.  Egoisme yang berlebihan, sehingga menyebabkan tumpulnya kepekaan sosial, dikarenakan rakyatnya takut menyampaikan saran pendapat kepada rajanya sendiri.

3.  Peluang (Opportunities)

a.  Mempelajari teknologi yang dimiliki oleh VOC, untuk dikembangkan pada armadanya terutama saat menaklukan Madura, harusnya dengan mempelajari korelasi antara VOC di Batavia dengan menaklukan Jawa Timur adalah sama persis.  Kendalanya visi dari Amangkurat belum memadai untuk itu.

b.  Sebenarnya kalau Amangkurat tidak serakah akan peran keturunan Mataram, memberi kesempatan daerah taklukan untuk mengambil peran, namun Kendalanya ialah malah sebaliknya Amangkurat membubarkan majelis Purumpara (dewan penasehat raja) yang sudah dirintis oleh Sultan Agung.

c.  Memberdayakan para Ulama, yang dapat memperkuat nilai-nilai spiritual, sehingga tidak perlu menyandarkan pada kekuatan VOC, kendalanya hal ini tidak dikerjakan karena Amangkurat lebih tertarik pada kebatinan, takhayul dan ramalan-ramalan yang menyesatkan.

4. Ancaman (Threat)

a.  Faktor eksternal yang mempengaruhi adalah Ancaman VOC yang memiliki Sumber Daya Manusia yang luar biasa.  Sebetulnya peralatan sebesar atau semodern apapun bila tidak bisa mengelolanya maka akan membuat rugi sendiri bagi pemiliknya.  Sebagai contoh saat akan menyerbu Batavia oleh Sultan Agung, sebenarnya Mataram sudah cukup mampu menggempur benteng VOC, sehingga sampai menewaskan Jan Pitersoon Coen.

Bila dilihat ancaman terhadap bangsa Indonesia yang ada saat ini adalah sama dengan saat Rezim Amangkurat dulu, yaitu dominasi Barat  terhadap Dunia. Sehingga sangatlah tepat bila kita mengambil pelajaran dari apa yang telah dialami oleh Amangkurat ini.  Sebetulnya ini kendala namun bisa dijadikan peluang, kalau bisa memanfaat hal-hal yang ada disekitar dengan lebih sensitif.

Memang sensifitas sang Raja saat itu tumpul dan tidak adanya kreativitas yang memadai sebagai negara yang kian membesar, yang sangat menyedihkan lagi justru sang Raja malah percaya kepada Ramalan yang mengatakan bahwa Kompeni (VOC) akan melindungi keturunan Mataram. Semestinya ramalan itu tidak diterima begitu saja, karena akan menyesatkan yang berakibat pada rendahnya kreativitas, hal ini bisa dilihat selama masa kekeuasaannya hanya sekali perluasan wilayah yaitu dalam merebut Blambangan.

b.  Faktor Internal, yang menjadi penyumbang buruknya Rezim Amangkurat adalah rendahnya tingkat silaturahmi dari para bangsawan dikarenakan adanya perkawinan campuran sebagai akibat pada saat  Sultan Agung menaklukkan suatu wilayah maka akan dikawinkan dengan keluarga kraton / bangsawan, hal tersebut adalah positif dari Sultan Agung untuk mempercepat pembauran, namun hal ini tidak bisa diterima mereka yang masih asli orang Mataram, sebagai contoh antara Amangkurat II yang keturunan Surabaya dengan Pangeran Puger yang asli Mataram, walaupun berbeda ibu.

Harmonisasi hubungan antar keluarga bangsawan sangatlah buruk dikarenakan rendahnya tingkat silaturahmi dan kurangnya komunikasi yang memadai, karena sifat ingin menangnya sendiri dari sang Raja, sehingga tidak mau disarankan oleh siapapun, baik Patih maupun Bangsawan apalagi rakyat biasa bahkan yang masih baru diduduki oleh Sultan Agung, bukan asli peranakan Mataram kurang diperhatikan.

Sebagaimana kita lihat pada saat leluhurnya Panembahan Senopati walaupun sebagai Raja namun mau menerima nasehat dari Patihnya yang bernama Ki Juru Martani atau Ki Adipati Mandaraka. Demikian juga Sultan Agung yang membuat “Majelis Purumpara” semacam dewan penasehat yang terdiri dari perwakilan dari wilayah kekuasaan mataram.

Sebetulnya hubungan / komunikasi-komunikasi itu bisa dicairkan dengan terobosan-terobosan yang lebih brilian, namun kenyataan sejarah sang Raja Amangkurat  sama sekali tidak mengeluarkan kebijakan yang memadai.  Semua kebijakan hanya ditujukan bagi menjaga keamanan kekuasaan dan kesenangan-kesenangan yang kontra produktif, misalnya saat menginginkan selir dari Ratu Malang, konon selir tersebut masih bersuamikan Ki Dalem, dan masih mengandung anaknya.  Tetapi Amangkurat yang tidak bijak malah membunuh suaminya Ki Dalem agar dapat memperistri Ratu Malang.  Pada akhirnya Ratu malang selalu menyebut-nyebut Ki Dalem yang pada akhirnya bunuh diri.  Begitu sayangnya sampai Ratu Malang itu tidak boleh dimakamkan.

IX.  Para Amangkurat harus sadar Sustainable  loop

X.  Strategi yang seharusnya dilakukan oleh Raja Amangkurat sesuai analisis Ifas dan Efas.

1.  Eksternal

Untuk memecahkan permasalahan dan menentukan strategi maka mutlak diperlukan penentuan faktor-faktor eksternal dan pembobotannya sebagai berikut :

XI.  Dampak Keruntuhan Mataram 

1.  Leluasanya Misi dan Zending (kristenisasi) di Indonesia

2.  Semakin besarnya kekayaan Indonesia mengalir ke Belanda

3.  Terbelakang peradaban Bangsa Indonesia

XII.  Penutup

1.  Kesimpulan

Sebagaimana dalam topik kita kali ini mengkaji seputar masa pemerintah Amangkurat maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut :

a.  Sebetulnya membedah Mataram oleh Pangeran Trunojoyo tidak perlu terjadi, kalau seandainya Amangkurat I tidak membunuh Pangeran Pekik (tahun 1659), mertuanya sendiri karena hanya menginginkan Selir Roro Oyi, itu alternatif bila Amangkurat I yang mengalah / legowo dan mau berfikir akan Negara dan bangsanya dibanding memikirkan emosi / hawa nafsu dirinya.

Adapun alternatif lain bila Pangeran Trunojoyo mau menyerahkan / berbagi kekuasaan dengan Amangkurat II itu akan lebih baik, bila wawasan saat itu adalah mau melihat yang lebih luas akan nusantara tempat mereka berada, tidak akan terjadi. Yang paling penting adalah menghilangkan arogansi, walaupun pangeran Trunojoyo orang Madura, bila dilihat dari kaca mata orang Jawa, kasar dan kurang memiliki tata krama, namun bila itu dilakukan dengan memberi maaf mungkin masyarakat akan berkata lain.

b.  Hal lain yang membuat kita sedih adalah pembantaian terhadap pangeran Trunojoyo (tahun 1679), mengapa seorang raja membiarkan tangannya melakukan eksekusi sendiri dan memperlakukan mayat Pangeran Trunojoyo secara tidak manusiawi, bukankah pangeran Trunojoyo masih ada hubungan darah dengan raja Amangkurat II.

Sebenarnya masih banyak yang bisa diharapkan dari seorang pangeran Trunojoyo, misalnya dengan memadamkan pemberontakan di bagian Timur Pulau Jawa, sehingga Raja Amangkurat tidak perlu meminta bantuan kepada VOC.  Ini sebetulnya menjadi pelajaran buat Amerika Serikat di Irak, yang seharusnya tidak usah menghukum gantung Saddam Husein, karena seharusnya Saddam Husein bisa digunakan sebagai cara untuk membuat situasi kondusif di Timur Tengah.

c.  Saat Pakubuwono I, diminta untuk membunuh Adipati Jangrana (tahun 1717) oleh VOC (Christoffel Van Swol), tanpa alasan yang wajar, hanya dengan dalih saat menyerbu Surabaya, Pakubuwono bingung karena pada saat yang bersamaan ditagih hutang oleh  VOC, supaya tidak membuat curiga VOC Adipati Jaya Puspita adik Adipati Jangrana diminta untuk melihat dengan mata kepala sendiri kakaknya digantung.

Ini adalah kesalahan luar biasa dari seorang kepala negara, seharusnya  Pakubuwono bertanya saya ini siapa ? Maka haruslah dijawab saya ini adalah raja yang berfungsi melindungi rakyat saya, bukankah raja sudah diberi upeti oleh rakyatnya, peristiwa ini harus menjadi pelajaran bagi generasi sekarang.  Janganlah menjadi pemimpin yang khianat kepada rakyatnya sendiri, karena ini akan membuat semakin banyak yang sakit hati.

d.  Kalau itu lawan politik sudah kalah, maka perlakukan dia dengan wajar, walaupun tidak  dihormati seperti sedia kala, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya ketika Amangkurat III yang melarikan diri ke Surabaya, kemudian dapat dikalahkan seharusnya Pakubuwono tidak menyerahkan kepada VOC (Joan Van Hoorn), untuk dibuang ke Srilangka (tahun 1708). Kebijaksanaan ini sendiri sebetulnya yang akan menjatuhkan derajat Pakubuwono sendiri.  Tetapi ini lebih didorong oleh kebencian Pakubuwono terhadap Amangkurat III yang menterlantarkan Anak Sulungnya yang bernama Raden Ayu Lembah yang disuruh untuk dibunuh oleh adiknya sendiri gara-gara minggat dari Amangkurat III.

2.  Saran

a.  Perlunya untuk membuat tulisan yang lebih mendalam terhadap topik tulisan ini, karena keterbatasan dari penulis, sehingga lebih dapat mengupas lebih jauh terhadap sejarah-sejarah kita yang lain.  Kemudian dari kesalahan-kesalahan sejarah, dapatlah direkonstruksi lagi dengan lebih mendalam sehingga dapat diperoleh generasi maupun yang akan datang dari bangsa kita.

b.  Bahwa yang membuat terpuruknya rezim Amangkurat disebabkan oleh hilangnya kreativitas dari sang Raja.  Pemecahan yang bisa diambil bila akan merekonstruksi sejarah yaitu dengan meningkatkan kreativitas yang positif oleh masing-masing anak bangsa, mulai dari Pemimpinnya hingga rakyat jelata.

c.  Kalau dulu masalah perselisihan adalah antara pimpinan dengan rakyatnya, tapi dewasa ini justru yang pemicu berasal dari segenap anak bangsa misalnya Kecewa dukungan Pilkada, Suporter Sepakbola yang tidak sportif, Penyerangan TNI terhadap Polri atau sebaliknya, penyalahgunaan wewenang / birokrasi, dari keempat hal tersebut membuat rendahnya wibawa hukum,  Pencurian kekayaan negara yang membabi buta oleh anak bangsa dan pihak asing.  Banyak kalangan bawah sudah meniru perilaku Amangkurat yang sangat keliru yaitu berperilaku malas-malasan, mau dapat untung sendiri dengan mengabaikan negaranya masih eksis apa tidak, yang penting keturunannya dapat hidup.

d.   Tulisan ini memuat larangan untuk tidak meniru hal-hal yang kurang baik dan konstruktif dari Amangkurat, jadi contoh ini untuk tidak dikerjakan (“mendhem jero” dalam bahasa Jawa yang artinya mengubur sedalam-dalamnya). Kalau disekitar kita ada yang berwatak sebagaimana diatas, maka dia akan terpuruk sebagaimana Amangkurat.

e.   Sebaliknya bila mau mencari suri tauladan maka tirulah tokoh-tokoh yang positif seperti para Nabi, Wali atau kalau lihat contoh Sultan Agung itu juga tidak apa-apa (“Mikul Ndhuwur” dalam bahasa Jawa yang artinya menjunjung tinggi). Kalau para pemimpin-pemimpin kita meniru tokoh-tokoh yang positif tersebut maka Republik Indonesia ini akan bersinar.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Comments

comments